Galang Asstiananda


SEJARAH INTER
February 15, 2008, 8:18 am
Filed under: sejarah

Inter Milan Indonesia

The Story Behind Internazionale Milano Football Club

Minggu, 2008 Februari 03

Inter Milan unggul 8 angka atas Roma

Inter. Inter Milan masih mengukuhkan keperkasaannya dengan masih bercokol di peringkat pertama klasemen sementara serie A dengan selisih keunggulan 8 points atas rival terdekatnya AS Roma. Hasil kemenangan 1-0 atas Empoli yang dicetak lewat eksekusi penalti oleh Ibrahimovic, yang sampai saat ini telah mencetak 14 gol buat La Beneamata, cukup untuk mengamankan 3 point penuh di San Siro. Tapi untuk ketiga kalinya Inter haus bermain dengan 10 pemain setelah Vieira diusir wasit pada babak pertama. Vieira yang terkena kartu kuning karena mengganggu pergerakan pemain Empoli, berusaha memprotes keputusan wasit yang memberinya kartu kuning tersebut, kemudian wasit malah memberinya kartu kuning yang kedua karena protesnya tersebut alias sent off.Dengan hanya bermain dengan 10 orang sejak menit 39, Inter selalu tertekan karena Empoli berusaha memanfaatkan keunggulan jumlah pemainnya dengan terus menggempur pertahanan Inter Milan. Internisti patut berterima kasih pada Julius Cesar karena tampil gemilang yang selalu menyelamatkan gawang Inter dari kebobolan, puncaknya saat Cesar mematahkan penalti dari Empoli pada menit 83. Hal ini mengamankan raihan 3 poin di kandang sendiri.Sementara pada pertandingan yang lain, As Roma takluk 3-0 atas tuan rumah Siena. THANKS SIENA!!! Sedangkan Juventus dipaksa bermain seri dengan juru kunci cagliari 1-1. Hasil ini membuat Inter Milan unggul 8 poin atas Roma dan 12 poin atas Juventus. (jap)

Minggu, 2007 Desember 23

Inter Menangi Derby Milan

Milan, 23 Desember 2007 – Inter Milan tampil sebagai pemenang dalam derby Kota Milan. Sempat tertinggal, Nerazzurri akhirnya sukses menundukkan AC Milan dengan skor 2-1.Dengan poin 43, Inter makin kokoh di puncak klasemen. Skuad besutan Roberto Mancini juga mempertahankan rekor belum terkalahkan di Seri A, memenangi 13 laga dan empat kali imbang.Buat Milan, inilah kekalahan keempatnya musim ini. Dengan selisih 25 poin dengan Inter, Diavolo Rosso yang pekan lalu menjadi juara dunia antarklub sepertinya harus menghapus scudetto dari daftar target musim ini.Derby della Madonnina edisi ke 169 di berlangsung dalam tensi tinggi. Suasana pertandingan yang semula dikhawatirkan akan hambar menyusul ancaman tiffosi melakukan aksi diam tak terbukti, San Siro, Minggu (23/12/2007), tetap bergemuruh oleh fans kedua klub.Milan yang hanya memasang Filippo Inzaghi sebagai penyerang di depan Kaka dan Clarence Seedorf sedikit tertekan di awal laga, beberapa pelanggaran keras terpaksa dilakukan Rossoneri untuk menahan gempuran Nerazzurri.Zlatan Ibrahimovich, yang dipasangkan denngan Julio Cruz di lini depan Inter, membuka peluang tuan rumah saat laga baru berjalan empat menit. Tendangan first time yang dilepaskannya di tiang jauh Milan setelah menerima crossing Maicon melayang tipis di atas mistar.Namun justru Milan yang lebih dulu membuka keunggulan melalui tendangan bebas Andrea Pirlo di menit 17. Diawali pelanggaran Ivan Cordoba terhadap Inzaghi tepat di muka kotak penalti, eksekusi Pirlo yang yang bersarang ke pojok kanan gawang Inter hanya mampu dipandangi Julio Cesar.Dalam selang dua menit Inter nyaris menyamakan kedudukan. Setelah Dida melakukan penyelamatan gemilang dengan menepis crossing Cruz yang hampir disambar Ibrahimovich, bola justru jatuh ke kaki Luiz Jimenez. Rebound gelandang Chile itu tak juga menyamakan kedudukan karena bola cuma menyasar mistar.Dalam posisi tertekan, Milan melalui serangan balinya malah kembali membahayakan Inter. Skuad besutan Roberto Mancini beruntung memiliki Javier Zanetti yang dengan gemilang menekel Kaka saat menusuk ke kotak penalti.Gempuran demi gempuran yang dilancarkan Inter akhirnya membuahkan hasil di menit 36. Dalam kawalan empat pemain Milan, Cruz yang menerima umpan dari Cambiasso melepaskan tendangan keras yang meski sempat menyentuh tangan Dida namun tetap bersarang di gawang.Dalam kondisi imbang laga tambah sengit. Milan yang sesekali menyerang sempat mengklaim penalti saat Kaka dijatuhkan Cambiasso di kotak terlarang, hal serupa terjadi di kubu Inter setelah Kakha Kaladze menyentuh bola dengan tangan di kotak penalti saat berusaha menyapu bola dari pertahanannya.

Di babak kedua Carlo Ancelotti memasukkan Emerson menggantikan Gattuso dan Gilardino menggantikan Pippo. Pergantian ini sempat terlihat menjanjikan, di menit 49 tandukan Gila meneruskan umpan Maldini gagal menemui sasaran.

Namun kemudian Inter yang lebih menguasai pertandingan dan memaksa Milan bermain setengah lapangan. Peluang membalikkan keadaan pun dimiliki Inter melalui Cambiasso yang menerima bola dari Zlatan, namun lagi-lagi gol urung tercipta karena sepakan dia dari tepi kotak penalti melayang tinggi di atas sasaran.

Berjuang menahan gempuran Inter, Milan justru “memberi” musuh besarnya itu gol kedua di menit 63 melalui Cambiasso. Maldini mengawali bencana tersebut saat dia membuang bola terlalu lemah di depan kotak penalti yang kemudian disambar Cambiasso. Bola yang sepakan Cambiasso sebenarnya tak terlalu keras dan mengarah tepat ke tengah gawang, tapi entah mengapa Dida salah mengantisipasi dan justru menjatuhkan diri ke arah kiri.

Milan baru memiliki peluang menyamakan kedudukan di menit 83 saat Kaka melepaskan tendangan firts time di luar kotak penalti. Namun bola yang mengarah ke tiang jauh diantisipasi oleh Cesar dan cuma membuahkan tendangan sudut. Ambrossini juga membuang peluang terbersih yang dimiliki Milan saat dia gagal membelokkan bola yang dikirim Serginho, padahal dia sudah lolos dari jebakan offside dan tinggal berhadapan dengan Cesar.

Setelah waktu normal berakhir, empat menit waktu tambahan yang diberikan wasit juga gagal dimanfaat Milan untuk menyamakan kedudukan. Skor akhir bertahan pada angka 2-1 untuk keunggulan Inter.

Susunan pemain:
Inter: Julio Cesar; Maicon, Cordoba, Samuel (Materazzi 37), Maxwell; Zanetti, Cambiasso, Chivu; Jimenez (Pele’ 79); Cruz (Suazo 86), Ibrahimovic

Milan: Dida; Oddo, Nesta, Kaladze, Maldini; Gattuso (Emerson 46), Pirlo, Ambrosini; Kaka, Seedorf (Serginho 58); Inzaghi (Gilardino 46)

(source:http://www.detiksport.com/)

Minggu, 2007 Oktober 21

La Grande Inter

Saat kapal induk Internazionale dipegang oleh Angelo Moratti, dimulailah era keemasan yang sampai hari ini masih sering dibincangkan tifosi. Selama Angelo berkuasa, total tujuh gelar diraih Inter. Benar-benar hebat karena tak hanya gela lokal yang diraih tapi gelar Eropa pun berhasil digondol.Piala Champions musim 1963-64 dan 1964-65 serta piala interkontinental 1964 dan 1965, merupakan bukti betapa Inter saat itu begitu perkasa. Keperkasaan meeka semakin menjadi-jadi pada musim 1964-65. Mereka meraih tiga gelar sekaligus: scudetto, Piala Champions dan Piala Interkontinental.Di era tersebut Inter benar-benar ditakuti. Dengan formasi 4-2-4, Inter hebat dalam penyerangan dan pertahanan. Bahkan Inter sempat dikenal dengan sebutan the winning team. Tim ini terdiri atas: Sarti (kiper), Burgnich, Facchetti, Bedin, Guarneri (bek), Picchi, Jair (gelandang), Mazzola, Milani, Suarez, Corso (striker).Tak hanya Angelo semata yang membuat Inter mencapai keemasannya. Sosok lain yang tidak boleh dilupakan adalah Helenio Herrera. Bahkan tak berlebihan jika disebut dialah sutradara yang sesungguhnya.Allenatore asal argentina ini mulai mengarsiteki Inter pada 1960-61. di tangan dingin Herrera, Inter memperagakan sistem pertahanan gerendel atau yang lebih dikenal dengan istilah catenaccio. Dialah pelatih yang mempopulerkan taktik dan strategi model begitu. Kelak, gaya bertahan ala catenaccio menjadi ciri khas klub-klub dan timnas Italia.Sebuah klub kadang tak lepas dari masa suram, demikian juga Inter. Klub yang pernah berjaya di era 1960-an ini lantas merasakan kesuraman. Inter paceklik akan gelar selama empat musim (1966-1970). Tak satupun gelar juara menghampiri meeka.Untung saja masa suram Inter tak berlangsung lama. Presiden baru, Ivanoe Fraizzoli, berhasil membawa Inter mengulangi masa jayanya. Ditandai dengan munculnya striker kurus, Alessandro Altobelli, Inter mulai merasakan kembali berbagai gelar juara.Sukses Inter di masa ini tak lepas dari peran dua pelatih yaitu Gianni Invernizzi dan Eugenio Bersellini. Merekalah yang menyulap Inter menjadi klub yang ditakuti. Invernizzzi yang menangani Inter selama dua musim (1970-1972), berhasil menghadirkan satu scudetto pada musim 1970-71. Sementara Besellini lebih hebat lagi. Raihan dua scudetto plus dua piala Italia merupakan kado manisnya selama lima musim bekerja di Inter.Bisa dikatakan di masa kepelatihan Giovanni Trapatoni, Inter memasuki akhir masa kejayaannya di serie-A. Pelatih top yang dikontrak dari juventus ini berhasil membawa Inter merengkuh scudetto ke-13 kalinya pada musim 1988-89. Mr. Trap sendiri mulai menangani Inter sejak musim 1986-87.Inter benar-benar digdaya saat dipegang Mr. Trap. Duet jerman yaitu Andreas Brehme dan Lothar Mattheus merupakan pemain penting dibalik kesuksesan Inter. Disamping itu tentu saja pelatihnya sendiri. Kebintangan mereka saat itu juga disokong oleh bintng-bintang lokal macam Walter Zenga, Giuseppe Bergomi, atau Riccardo Ferri.Setelah Ernesto Pellegrini lengser dari kursi presiden, Massimo Moratti tampil pada 1995. Dia ingin mengulang sukses ayahnya yaitu Angelo Moratti. Tapi tampaknya tidak berhasil. Dan kini di masa kepelatihan Roberto Mancini, Inter berusaha mengulangi masa kejayaannya di Italia dan Eropa.

Kamis, 2007 Oktober 18

Berganti Nama

Maju pesat, sayangnya anjlok juga pesat. Internazionale setelah itu turun prestasinya. Hingga akhirnya trofi kedua diraihnya jauh pada musim 1919-20. Saat itu Internazionale dibawah presiden Giorgio Hulls dan allenatore Nino Resegotti. Yang jadi kapten Virgilio Fossati II.Cerita selanjutnya berkaitan dengan catatan sejarah besar yang dibincangkan di Eropa dan belahan dunia lain. Di zaman fasis, Italia terkenal dengan kediktatoran Benito Mussolini. Dia bercita-cita menjadikan negara Italia negara super power. Imbasnya terjadi pada kebijakannya di negara spaghetti itu. Semua hal diaturnya agar sesuai dengan paham yang mau dia bangun. Itulah mengapa musim 1928-29, Internazionale dipaksa melebur dengan klub lokal Unione Sportivo Milanese. Bergantilah nama klub ini menjadi Ambrosiana.Kala itu, Internazionale dianggap Mussolini tak sesuai dengan pahamnya. Maklum, klub ini banyak diperkuat pemain asing. Padahal, sebagai negara penganut faham fasis, Italia lebih mengunggulkan bangsanya sendiri. Atau dengan kata lain, anti asing.Meski harus berganti nama, Inter tetap maju. Mereka msih mampu berbicara. Tiga gelar masih mampu diraih saat bernama Ambrosiana-Inter. Bahkan saat meraih scudetto ketiganya di tahun 1929-30, mereka dilatih allenatore asing, Arpad Veisz.Dalam proses merebut gelar, kotribusi pemuda bernama Giuseppe Meazza sangat besar. Kesuksesan klub ini di era 30-an tak bisa lepas dari pemain yang kelak menjadi legenda sepanjang masa di Inter dan Italia.Usai Perang Dunia II, persisnya tahun 1946, Ambrosiana-Inter kembali ke fitrahnya. Mereka kembali ke nama pertamanya, Internazionale. Orang yang punya peran besar dalam hal ini adalah Carlo Masseroni, presiden klub sejak tahun 1942.Kostum putih dengan tanda silang merah di dada –dipakai pada era fasis, juga ditanggalkan. Kemudian Inter memakai kostum yang sama seperti pada awal berdirinya. Selam 12 tahun Masseroni menjadi nahkoda kapal Internazionale, dua scudetti berhasil digenggam. Hebatnya, itu dilakukan dua musim berturut-turut, 1952-53 da 1953-54. Pelatihnya Alfredo Fani.

Senin, 2007 Oktober 08

Berkah Sebuah Pembangkangan

Tahukah Anda, Inter Milan tak akan pernah tedengar namaya apabila sejumlah orang tak melakukan pembangkangan? Ironis memang. Suatu bentuk pembangkangan malah menelorkan sebuah klub yang kelak akan diperhitungkan namanya di belantika persepakbolaan Italia dan Eropa.Asal mulanya pun tak pernah terbayang. Sejarah Inter Milan terkait erat dengan Milan Cricket dan Football Club yang didirikan pada 16 Desember 1899 oleh tiga orang Inggris, Herbert Kilplin, Allison dan Davies. Tiga serangkai ini kemudian disebut-sebut juga dibantu oleh tiga rekannya yang lain, Alfred, Barnett dan Nathan.Para pendiri dan anggota Milan Cricket dan Football Club awalnya mungkin tak pernah menyangka jika klub olahraga itu bakal pecah. Gara-garanya pun sepele. Sebagian anggota – dipimpin oleh Giovanni Paramithiotti, memprotes kebijakan klub dalam pembatasan angota. Sekedar info, saat itu Milan tidak mengizinkan pemain asing memperkuat timnya. Hanya menerima pemain Italia dan Inggris. Lainnya tidak.Mereka yang tidak setuju lantas minggat. Dan sepakat mendirikan klub tandingan. Pada Senin, 9 Maret 1908, bertempat di Restoran Dell ’Orologio, berdirilah Internazionale Milano Football Club yang kelak bernama Inter Milan.Meski cara yang digunakan adalah pembangkangan pada awalnya, di kemudian hari ada satu hal yang patut diaccungi jempol dari Internazionale Milano Football Club. Itu terlihat pada tujuannya. Mereka sengaja memberi nama klub sempalan Milan ini dengan nama Internazionale. Artinya sudah jelas, untuk umum. Secara luas terbuka untuk siapa saja, tanpa membedakan dari bangsa mana dan suku apa. Sifatnya global. Intinya, klub ini sejak awal berdiri telah berani mengesampingkan perbedaan rasial.Begitu Internazionale mendeklarasikan sifatnya yang terbuka unutuk umum, sejumlah pemain asing mulai berdatangan. Kebanyakan mereka berasal dari Swiss. Sampai-sampai kapten pertama klub ini pun orang Swiss tulen, Ernst Marktl.Untuk membedakan diri secara jelas dari ’saudara tuanya’,Molan, mereka buru-buru menugaskan George Muggiani -desainer lokal- untuk merancang kostum. Sesuai kesepakatan, Mugani lantas memakai warna dasar emas dipadukan garis hitam biru secara vertikal.Soal kostum beres, beralih ke organisasi. Sebagai penghormatan atas ide ’gilanya’ untuk membentuk klub pelarian, Giovanni Paramithiotti kemudian diangkat menjadi presiden klub. Dia orang pertama di posisi itu.Berkat jasa pemain asingnya, Internazionale tak harus menunggu lama mendapatkan gelar pertamanya. Pada musim 1909-10, mereka memperoleh trofi pertama. Pelatih yang berperan besar memadukan kolaborasi Italia-Swiss saat itu adalah Virgilio Fossati I.(sumber: soccer series)
to be continued…..


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: